“Pacaran” untuk ML

Rahma (nama samaran), mengaku, menjadi lesbian karena banyak dikhianati oleh pacarnya. Semua lelaki yang memacari Rahma, semua meninggalkannya dengan cerita penuh kepedihan. Cerita perselingkuhan menjadi penyebab utama putusnya hubungan cinta Rahma dengan lelaki pujaannya.

Berbagai pengkhianatan ini menjadikan Rahma tidak percaya lagi dengan lelaki. Setiap ada lelaki yang mencoba mendekatinya, Rahma segera pasang langkah seribu untuk menghindari.

Cowok itu egois. Dia berpacaran kalau ada maunya saja. Rasa sakit hati yang saya alami membuat saya nggak mau lagi melihat cowok,” tutur Rahma kepada Behind Report on Blog via messenger.

Semenjak jarang bergaul dengan lelaki, Rahma perlahan mulai membuka hati untuk mencoba memiliki pasangan sejenis. Setelah dua tahun menjadi kaum lesbian, Rahma akhirnya mendapatkan “pacar” baru. Hanya saja hubungan insan sejenis tersebut tidak berlangsung lama. Setelah lima bulan berjalan, sang “pacar” meninggalkan dirinya.

“Alasan dia minta putus pun sangat konyol. Dia bilang aku masih sangat junior. Masih cupu (culun punya –red) katanya,” ujar Rahma sedih.

Keputusan Rahma menjadi lesbian masih dirahasiakan dari keluarganya. Namun sebagian temannya ada yang tahu identitasnya sebagai lesbi. “Kami adalah kaum yang sering diolok-olok sebagaimana kaum homo,” ujar wanita dari Samarinda kelahiran 24 April 1986 ini.

Namun Rahma menyadari ada perbedaan dalam membina hubungan cinta antara lelaki dengan wanita. Dengan lelaki, Rahma bisa mendapatkan kasih sayang yang lebih baik dibanding berhubungan dengan wanita.

“Hubungan sejenis itu lebih banyak bermuara pada penyaluran hasrat seksual. Saya mengakui lebih cenderung untuk fungsi ML (making love; bercinta- red) saja, saat berpacaran dengan wanita,” pungkas Rahma yang masih trauma untuk kembali menjadi wanita “normal”.

ilhamchoir

Belajar Bahasa Arab di Solo untuk ke Saudi

Oleh: Ilham Choirul Anwar

Sekalipun terbentang jarak sangat jauh, namun tidak menyurutkan langkah seorang pemuda asal Cina untuk belajar Islam di Indonesia. Pemuda ini bernama Abdullah bin Thalha. Dia berasal dari Propinsi Daerah Otonomi Xinjiang, Cina. Kedatangannya di Indonesia atas beasiswa dari sebuah lembaga Islam yang berlokasi di Dubai.

Abdullah saat ini mengambil kuliah di Pondok Pesantren (Ponpes) Abubakar Ash Shidiq, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kehadirannya di Indonesia sebenarnya sejak 1,5 tahun yang lalu. Satu tahun dihabiskannya untuk belajar bahasa arab di Ponpes Ali bin Abi Thalib, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Di Surakarta, dia hampir setengah tahun ini mendalami bahasa arab lebih lanjut. “Bagi saya belajar bahasa arab itu sangat penting. Al Quran itu berbahasa Arab dan akan lebih mudah dipahami jika kita mempu berbahasa Arab,” ujar Abdullah kepada Saudagar.

Abdullah punya alasan tersendiri memilih Indonesia sebagai tempat belajarnya. Dengan mayoritas penduduk muslim  terbesar di dunia, Abdullah yakin jika lingkungan di Indonesia cukup bagus. Selain itu, “Untuk bisa belajar di Arab Saudi pun perlu belajar bahasa arab dulu selama dua tahun. Buku-buku yang dipakai di sini pun juga dari arab. Begitu pula dengan sistem belajarnya juga sama dengan di Riyadh (Arab Suadi), yaitu dengan Universitas Imam Su’ud. Jadi kira-kira sama belajar bahasa arab di sini dengan di arab. Ini sebagai persiapan sebelum masuk kuliah,” ujar Abdullah yang mulai lancar berbahasa Indonesia.

Abdullah sebenarnya ingin langsung belajar ke Arab Saudi. Namun untuk bisa langsung ke sana, harus melalui peraingan yang sangat ketat. “Dengan belajar di Solo ini, begitu lulus bisa langsung meneruskan seleksi ke Arab,” kata pemuda tampan bercambang tipis ini. “Insyallah saya ingin melanjutkan ke Arab Saudi. Atau paling tidak di negara arab. Karena belajar bahasa arab juga harus berada di lingkungan arab juga,” kata Abdullah menambahkan.

Dorongan Abdullah untuk mempelajari bahasa arab dan Islam lebih dalam, dipengaruhi oleh lingkungan sekitar di tempat asalnya. Di Xinjiang, hampir semua penduduk memeluk Islam. Keluarga Abdullah, yang bersuku Uigur, semuanya muslim. Dia mempunyai dua adik kandung dan orang tua yang mendukungnya belajar hingga ke Indonesia. Selain itu, Abdullah memang telah memiliki ketertarikan mempelajari bahasa arab umur enam tahun.

Sekalipun masyarakat di lingkungan asal Abdullah mayoritas muslim, akses untuk mendapatkan ilmu tentang Islam sangat sulit. “Untuk bisa belajar ilmu agama, kami harus mendatangi pemuka-pemuka di sana. Masih sedikit pemuka yang benar-benar memahami Islam,” ujar Abdullah. “Selain itu masyarakat di sana, sekalipun mayoritas muslim, kurang kuat Islamnya. Masih banyak kemaksiatan yang dilakukan. Seperti minum khamr (minuman beralkohol –red) atau tidak sholat. Berbeda dengan kondisi pada zaman shahabat atau ulama’ dulu. Meski mereka kadang tidak mempunyai harta, tapi iman mereka sangat kuat, “ tambah lelaki kelahiran 6 Desember 1985 itu.

Melihat kondisi tersebut, Abdullah mempunyai cita-cita untuk membenahi masyarakat di sekitar tempat asalnya. Abdullah berkomitmen untuk kembali ke Xinjiang selepas menempa ilmu bahasa arab dan Islam dari perantauan. “Minimal saya belajar Islam untuk diri saya. Namun saya juga akan mengajarkan kepada adik-adik dan keluarga saya. Selanjutnya saya akan lakukan sebisa saya untuk berdakwah secara luas,” ujar santri yang hafal setidaknya lima juz Al Quran ini.

Abdullah menilai lingkungan belajarnya di Yogyakarta, dan sekarang di Solo, cukup kondusif. Dia merasakan keramahan saudara muslim lainnya sekalipun berbeda suku dan negara. “Mereka cukup ramah dan bersahabat menyambut saya, juga jarang marah-marah,” ujar Abdullah sambil tertawa. “Bahkan saat saya datang ke Indonesia, saya sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Dari teman-teman inilah saya mulai belajat bahasa Indonesia,” terang Abdullah.

Abdullah mempunyai penilaian sendiri terhadap kondisi muslim di Indonesia, terutama Yogyakarta dan Solo. “Saya banyak menemui muslim yang berkomitmen seperti shahabat Rasulullah. Tapi saya juga menemui muslim yang agamanya kurang,” kata Abdullah. Dia juga menilai munculnya aliran sesat di Indonesia sangat dipengaruhi oleh sistem demokrasi yang diterapkan. “Demokrasi itu membuat segalanya serba boleh. Demokrasi tidak bisa kompromi dengan Islam. Dalam Islam, perlu diteliti boleh tidaknya sesuatu itu dilakukan,” ujar Abdullah menjelaskan.

Melihat hal ini, Abdullah turut berpesan kepada saudara muslim di Indonesia. Dia memandang kaum muslim di Indonesia perlu mensyukuri diberikan kemudahan mencari ilmu agama Islam. “Di Xinjiang, mencari ilmu agama harus aktif menemui kyai,” ujar Abdullah. “Oleh karena itu, marilah mensyukuri kenikmatan yang diberikan Allah ini agar Allah makin menambah nikmat. Jika kita tidak bersyukur, maka Allah akan mencabut kembali nikmat yang telah diturunkanNya,” pungkas Abdullah.

(Dimuat dalam Majalah Saudagar Edisi 30/Oktober 2008. Naskah asli sebelum masuk edit)

Hoki Koi dan Arwana Penolak Bala

Indonesia memang surga cerita mistis. Apalagi kalau sempat berinteraksi dengan masyarakat Kota Solo yang masih berpegang pada adat kejawennya, maka akan didapati seonggok cerita yang bikin merinding. Sesuatu yang nampak aneh sering dikaitkan dengan adanya “penunggu”.

Pernah ada cerita, ada seorang lelaki tidur malam di bawah pohon beringin yang besar. Lantas keesokan harinya, dia ditemukan mati di tempat tersebut. Segelintir orang yang percaya kejawen lantas berkoar jika sang lelaki dibunuh oleh penunggu pohon. Padahal kalau dilihat dari sisi ralistisnya, sangat wajar jika lelaki tersebut meninggal. Penyebabnya tentu saja karena lelaki itu banyak menghisap gas CO2 yang dikeluarkan pohon beringin di waktu malam.

Apa hubungannya dengan ikan? Ternyata prinsip “utak-atik gathuk” cerita mistis ini ditemukan juga pada keberadaan ikan hias. Anehnya dengan bekal cerita mistis yang melekat pada ikan hias tersebut, membuat penjualan ikan melonjak tajam.

Ikan hias yang dimaksud adalah ikan koi dan arwana. Saat tulisan dibuat, kedua ikan ini menjadi incaran favorit para kolektor ikan hias. “Kedua ikan hias ini lagi tren di Kota Solo,” ujar Ria, karyawan Solo Aquarium.

Ikan arwana, misalnya, diyakini mampu sebagai penolak bala atau musibah bagi pemiliknya. Ketika pemilik akan mendapat musibah, maka musibah tersebut akan dialihkan ke ikan arwana. Tandanya, ikan arwana tersebut akan mati saat dia menanggung musibah pemiliknya.  “Jadi keluarga terbebas dari ancaman musibah jika memelihara arwana,” ujar Wahono, Manager Pro Shop “She Look Red” Solo. Selain itu, arwana juga dipercaya mampu mendatangkan rezeki.

Begitu pula dengan ikan koi. Ikan ini diyakini sebagian masyarakat bisa membawa keberuntungan dalam hidup. Namun cerita mistis ikan koi ini tidak sekuat arwana. “Ada juga yang punya keyakinan seperti itu. Tapi banyak juga yang membeli koi karena memang suka,” ungkap Ria.

Jenis ikan arwana yang banyak laku berjenis silver brasil. Harganya sekitar 100 ribuan per ekor. Namun bagi peminat arwana jenis super red, mereka harus rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah. “Untuk ukuran 20-25 cm sekitar 6,5 juta rupiah. Sedangkan untuk ukuran di bawah itu, sekitar 15-17 cm harganya sekitar 5 juta rupiah. Kalau yang paling besar dari semua itu harga relatif tergantung warnanya,” jelas Wahono. Mahalnya jenis super red ini, lanjut Wahono, “Memang lebih banyak diburu oleh kolektor berkantong tebal.”

Mungkin ikan koi yang sangat terjangkau bagi penggemar ikan hias. Ikan ini bisa dibeli kolektor lapisan manapun dan memiliki cara perawatan yang lebih mudah dibanding arwana. “Ikan koi harganya bervariasi mulai dari 10 ribu, 20 ribu, bahkan 35 ribu. Tergantung besar kecilnya,” tegas Ria.

Cerita mistis dibalik kedua ikan tersebut tidak mutlak menjadi faktor larisnya penjualan. Ikan arwana, misalnya, menjadi sangat mahal karena ikan ini cukup langka keberadaan. Dengan memiliki ikan arwana, apalagi jenis super red, akan mendatangkan prestis bagi pemiliknya.Begitu pula dengan ikan koi. Ikan ini jenis ikan yang nggak terlalu neko-neko. Perawatannya mudah dan bentuknya pun meggemaskan.

Semoga kita tidak tertipu membeli ikan hias hanya dengan mengandalkan cerita mistis dibalik ikan tersebut. Bagaimana pun juga nasib kita ditentukan oleh kita sendiri dengan izin dari Tuhan. Lebih percaya mana?

Beting Es Kutub Utara Berukuran 55 KM Terlepas

Ottawa - Satu beting atau bongkahan es berukuran 55 kilometer persegi di bagian utara Kutub Utara terlepas dari induknya dan mengambang di samudera, tanda terbaru mengenai perubahan iklim secara cepat di wilayah terpencil itu.

Satu tim ilmuwan mengatakan Selasa, beting es Markham, satu dari hanya lima beting es yang tersisa di Kutub Utara, terpisah dari Pulau Ellesmere di Kanada awal Agustus.

Mereka juga menyebut, dua bongkahan besar dengan jumlah total 122 kilometer persegi telah terlepas dari beting es Serson, yang berdekatan, sehingga mengurangi ukuran sebesar 60 persen.

“Peristiwa pemecahan mendasar ini menggaris-bawahi cepatnya perubahan yang terjadi di Kutub Utara,” kata Derek Mueller, seorang spesialis beting es Kutub Utara di Trent University di Ontario, dikutip Reuters.

“Perubahan ini tak terelakkan di bawah cuaca saat ini dan menunjukkan bahwa kondisi lingkungan hidup yang telah menjaga keseimbangan semua beting es ini selama ribuan tahun sudah tak ada lagi,” katanya dalam surat elektronik yang dikirim Selasa larut malam.

Ia menyatakan jumlah total kehilangan es dari berbagai beting pada musim panas tahun ini mencapai angka 215 kilometer persegi, lebih dari tiga kali daerah Manhattan.

Temperatur di banyak wilayah Kutub Utara telah naik jauh lebih cepat daripada angka rata-rata global dalam beberapa dasawarsa belakangan, suatu perkembangan yang dikatakan banyak ahli berkaitan dengan pemanasan global. (ANTARA News-03/09/08)

Potensi Gunung Lumpur Membentang di Pulau Jawa

Bandung  - Para ahli geologi menyatakan bahwa potensi gunung lumpur (mud vulcano) membentang luas di daratan Pulau Jawa, sehingga di wilayah itu rentan terjadi semburan lumpur seperti yang terjadi di Sidoarjo, Jatim.

Staf Ahli geologi BP Migas Awang Harun Satyana mengatakan, terdapat jalur rentetan gunung lumpur yang terbentang luas dari Bogor hingga Sidoarjo.

“Masyarakat mungkin tidak akan pernah lupa terhadap kejadian fenomenal semburan lumpur yang terjadi di wilayah Jawa Timur itu, bahkan setelah dua tahun, lumpur Sidoarjo terus menyembur tanpa henti,” ujarnya.

Bagi ahli geologi, kata dia, kejadian tersebut merupakan salah satu contoh tidak tepatnya perlakuan manusia terhadap alam karena kurangnya pengetahuan terhadap kegeologian.

“Kejadian ini sebenarnya sangat alami, bahkan beberapa pakar telah memetakan Indonesia sebagai wilayah yang rentan terhadap gangguan alam seperti itu,” urainya.

Awang menjelaskan, beberapa juta tahun lalu, tepatnya di wilayah Kubah Sangiran terjadi hal serupa. Berdasarkan penelitian, Sangiran merupakan tempat hidup manusia purba pertama di Pulau Jawa dua juta tahun lalu.

“Kubah Sangiran kemudian tererosi pada bagian puncaknya, sehingga membentuk sebuah depresi. Pada depresi itulah, tersingkap lapisan-lapisan tanah secara alamiah,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, gunung lumpur ini telah menenggelamkan sebuah kerajaan di Jawa Timur sekitar 400 tahun silam.

Sedangkan Edi Sunardi, Ketua Pengembangan Ilmu IAGI, yang juga dosen Geologi Unpad, berpendapat, secara geografis, daerah Jatim memiliki peta geologi yang spektakuler karena memiliki kandungan minyak, gas, serta gunung lumpur.

Bahkan, terdapat satu jalur dari arah Barat ke Timur sampai dengan Selat Madura yang dipenuhi dengan gunung lumpur.

Hal senada dikatakan Prof Sukendar Asikin, ahli tektonik dan geologi struktur dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa tidak menutup kemungkinan fenomena Kubah Sangiran terulang kembali di beberapa wilayah di Pulau Jawa.

Menurut dia, erupsi Kubah Sangiran terjadi akibat beratnya beban gunung api yang menjulang di wilayah itu, yang mengakibatkan keluarnya cairan dari dalam perut bumi.

“Artinya, kejadian itu bisa terulang kembali jika beban di atas permukaan tanah di beberapa wilayah di Pulau Jawa terlalu berat, misalnya oleh kepadatan kota,” ujarnya.

Dia mengatakan, pesatnya pembangunan tanpa diimbagi dengan kajian geologi, berpotensi membuat kejadian seperti lumpur Sidoarjo terulang kembali.

Kekhawatiran ini, lanjutnya, memang beralasan karena saat ini terlihat pesatnya pembangunan kota, dan bahkan terjadinya eksploitasi tanah secara besar-besaran untuk menghasilkan batu bara dan timah.

Di sisi lain, kata Asikin, kesadaran akan penghijauan lingkungan semakin berkurang, akibat tidak pahamnya masyarakat mengenai musibah yang mengancam.

“Kurangnya pengetahuan pemerintah dan masyarakat mengenai geologi diduga sebagai penyebab awal terjadinya bencana. Pemerintah memberikan izin eksplorasi, dan masyarakat melaksanakannya tanpa berbekal pengetahunan geologi,” ujarnya.

Namun, kata dia, hal itu mungkin tidak menjadi masalah jika setiap lapisan tanah yang mengandung kekayaan alam tidak berpotensi menimbulkan bencana.

Pada kenyataannya, kekayaan bumi itu kerap berdampingan letaknya dengan potensi bencana, seperti kejadian lumpur Sidoarjo.

“Ini memang unik, di wilayah yang termasuk jalur gunung lumpur itu ternyata terkandung minyak yang cukup besar, kondisi ini mirip dengan kejadian pengeboran minyak di wilayah Azerbaijan dan Iran,” jelasnya.

Menurut dia, pengeboran minyak di wilayah itu menghasilkan sedikitnya 1,5 juta barel per hari, namun juga menyemburkan lumpur dari perut bumi mirip dengan kejadian di Sidoarjo.

Pihaknya melihat, atas beberapa peristiwa alam yang terjadi, sudah selayaknya perhitungan geologi menjadi pertimbangan sebelum melakukan eksplorasi.

“Pada dasarnya pengebor itu tidak salah, karena wilayah itu mengandung minyak. Permasalahan utamanya ialah, masih rendahnya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan sebagai basis pembangunan,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, setelah terjadi bencana lumpur Sidoarjo, pengetahuan mengenai kegeologian menjadi penting, khususnya berkaitan dengan penemuan sedikitnya 20 cekungan baru di Indonesia. (ANTARA News-29/08/08 )